Senin, 23 Maret 2015

Roti di Setiap Pagi



Rumahku di sebuah pedesaan, beberapa meter dari rumahku adalah ladang jagung yang sangat luas. Aku hanya tinggal dengan Ibu, kami tak punya apa-apa selain satu ekor sapi, kebun kecil yang syukurnya selalu subur, dan Bilbo si anjing kami yang pintar.
Aku tidak sekolah, lagipula banyak sekali yang harus kulakukan dibanding berada di kelas dan mendengarkan guru berbicara atau berbisik-bisik dengan teman. Kehidupanku sehari-hari yaitu hanya membantu Ibu mengurusi kebun, memerah susu sapi dan membersihkan rumah selagi Ibu berdagang susu atau menjual hasil kebun kami.
Sampai pada suatu pagi, aku mendapati dua buah kantung kertas yang di dalamnya terdapat roti kering maupun basah, masih hangat. Aku terpekik girang karenanya dan memberitahukannya segera kepada Ibu.
“Tuhan sangatlah baik, bukan?” ucap Ibu.
Aku mengangguk dan segera menjejalkan satu buah roti ke dalam mulutku. Sungguh indah pagi ini.
Lalu keesokkan paginya, saat aku pulang dari toko daging bersama Bilbo, aku melihat kantung itu lagi, kantung roti. Aku membukanya dan isinya pun masih sama, roti yang hangat dan harum.
“Bilbo, menurutmu, siapa yang menaruh kantung ini di sini? Apakah malaikat bersayap yang turun dari langit?” tanyaku pada Bilbo sambil mengusap kepalanya.
Aku membawa kantung itu masuk ke dalam, dan menaruhnya di meja makan. Lalu aku memanen wortel ditemani Bilbo yang terus mengibas-ibaskan ekornya. Sampai sore hari, aku masih saja memikirkan roti itu, dan aku tak memakannya barang satu potong pun.
Sore itu aku duduk bersama Bilbo di pekarangan rumah kami, Memandangi langit yang mulai gelap. Semburat jingga menghiasi seluruh alam, di saat yang sama seorang gadis dengan gaun hijau toska sebatas lutut menghentikan sepedanya di dekat pagarku.
Gadis itu lalu masuk dan tersenyum padaku. Rambut panjangnya yang coklat dipadukan dengan kulit pucatnya yang berbintik. Mata almondnya berwarna senada dengan rambutnya.
“Halo,” sapanya. Bilbo bahkan menghampirinya dengan gonggongan riang.
Aku tersenyum, “hai. Mencari siapa?”
Tubuhnya yang tinggi semampai melebihi diriku berjalan mendekatiku. Sepertinya umurnya berbeda dua tahun denganku.
“Kau yang bernama Lily?” tanyanya, membuatku bingung.
Aku mengangguk, “kau siapa?”
“Aku Anna, sudah menerima rotiku setiap pagi?” tanyanya lagi.
Aku mengerutkan alis, sebenarnya siapa dia?
“Aku adalah orang yang menaruh roti di rumahmu setiap pagi,” lanjutnya, seperti bisa membaca pikiranku.
Aku lalu mengajaknya duduk di bangku di teras rumahku. Lalu aku menyajikan teh dan roti yang ternyata adalah pemberian darinya.
“Kenapa kau memberiku roti?” tanyaku, aku sangat penasaran akan kelakuannya itu.
Anna tersenyum, “kau gadis yang baik. Beberapa waktu lalu aku selalu memperhatikanmu, kau gadis baik dan rajin.”
“Lalu kenapa? Ada banyak gadis baik lain di luar sana,” balasku.
Anna meminum teh buatanku dan mengambil satu potong roti. Ia memandangi potongan roti itu, “ibuku sudah meninggal. Dulu, saat aku berkelakuan baik, beliau selalu memberiku sepotong roti.”
Mata Anna menerawang jauh, pandangannya menembus ladang jagung di depan sana. Rambut coklatnya tertiup angin, wangi tubuhnya manis dan aku merasa iri karena tubuhku menguarkan aroma kandang sapi.
“Anna, berapa kali kau menerima jagung itu?” tanyaku, entah kenapa aku bertanya begitu.
Anna menoleh padaku sebentar, “aku hanya menerimanya empat kali seumur hidupku, karena aku bukanlah gadis yang baik.”
Bahkan aku menganggap Anna gadis yang baik. Bahkan aroma tubuhnya menyiratkan kebaikan hati gadis ini.
“Jadi aku membuat roti, aku menganggap setiap roti yang kubuat adalah pemberian ibuku. Lalu aku memberikannya padamu, pada gadis baik yang memerah susu, yang memanen kebun, dan yang memberi makan anjingnya, hanya padamu,” jelas Anna.
“Kenapa aku?” tanyaku.
“Aku tidak menemukan gadis lain yang semulia dirimu, Lily teman kecilku,” jawab Anna.
Oh, jadi sekarang aku menjadi temannya.
“Jadi, aku mohon terimalah roti dariku, anggap saja kau membantuku untuk mendapatkan roti penghargaan dari ibuku,”
“Dengan senang hati, Anna.”
***
Jadi pada pagi-pagi lain setelah itu, aku selalu menerima roti dari Anna. Dan aku seringkali bermain dengannya di ladang bersama Bilbo.
Sampai suatu ketika, aku tak menerima roti itu lagi, aku juga tak bertemu Anna lagi. Dan di suatu senja yang mendung, seseorang menyampaikan surat dari Anna.
Lily sayang, terimakasih telah membantuku, sekarang aku bahagia, sebentar lagi aku akan bertemu Ibuku. Jaga dirimu baik-baik. -Anna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar