Rumahku di sebuah
pedesaan, beberapa meter dari rumahku adalah ladang jagung yang sangat luas.
Aku hanya tinggal dengan Ibu, kami tak punya apa-apa selain satu ekor sapi,
kebun kecil yang syukurnya selalu subur, dan Bilbo si anjing kami yang pintar.
Aku tidak sekolah,
lagipula banyak sekali yang harus kulakukan dibanding berada di kelas dan
mendengarkan guru berbicara atau berbisik-bisik dengan teman. Kehidupanku
sehari-hari yaitu hanya membantu Ibu mengurusi kebun, memerah susu sapi dan
membersihkan rumah selagi Ibu berdagang susu atau menjual hasil kebun kami.
Sampai pada suatu pagi,
aku mendapati dua buah kantung kertas yang di dalamnya terdapat roti kering
maupun basah, masih hangat. Aku terpekik girang karenanya dan memberitahukannya
segera kepada Ibu.
“Tuhan sangatlah baik,
bukan?” ucap Ibu.
Aku mengangguk dan
segera menjejalkan satu buah roti ke dalam mulutku. Sungguh indah pagi ini.
Lalu keesokkan paginya,
saat aku pulang dari toko daging bersama Bilbo, aku melihat kantung itu lagi,
kantung roti. Aku membukanya dan isinya pun masih sama, roti yang hangat dan
harum.
“Bilbo, menurutmu,
siapa yang menaruh kantung ini di sini? Apakah malaikat bersayap yang turun
dari langit?” tanyaku pada Bilbo sambil mengusap kepalanya.
Aku membawa kantung itu
masuk ke dalam, dan menaruhnya di meja makan. Lalu aku memanen wortel ditemani
Bilbo yang terus mengibas-ibaskan ekornya. Sampai sore hari, aku masih saja
memikirkan roti itu, dan aku tak memakannya barang satu potong pun.
Sore itu aku duduk
bersama Bilbo di pekarangan rumah kami, Memandangi langit yang mulai gelap.
Semburat jingga menghiasi seluruh alam, di saat yang sama seorang gadis dengan
gaun hijau toska sebatas lutut menghentikan sepedanya di dekat pagarku.
Gadis itu lalu masuk
dan tersenyum padaku. Rambut panjangnya yang coklat dipadukan dengan kulit
pucatnya yang berbintik. Mata almondnya berwarna senada dengan rambutnya.
“Halo,” sapanya. Bilbo
bahkan menghampirinya dengan gonggongan riang.
Aku tersenyum, “hai.
Mencari siapa?”
Tubuhnya yang tinggi
semampai melebihi diriku berjalan mendekatiku. Sepertinya umurnya berbeda dua
tahun denganku.
“Kau yang bernama
Lily?” tanyanya, membuatku bingung.
Aku mengangguk, “kau
siapa?”
“Aku Anna, sudah
menerima rotiku setiap pagi?” tanyanya lagi.
Aku mengerutkan alis,
sebenarnya siapa dia?
“Aku adalah orang yang
menaruh roti di rumahmu setiap pagi,” lanjutnya, seperti bisa membaca
pikiranku.
Aku lalu mengajaknya
duduk di bangku di teras rumahku. Lalu aku menyajikan teh dan roti yang
ternyata adalah pemberian darinya.
“Kenapa kau memberiku
roti?” tanyaku, aku sangat penasaran akan kelakuannya itu.
Anna tersenyum, “kau
gadis yang baik. Beberapa waktu lalu aku selalu memperhatikanmu, kau gadis baik
dan rajin.”
“Lalu kenapa? Ada banyak
gadis baik lain di luar sana,” balasku.
Anna meminum teh
buatanku dan mengambil satu potong roti. Ia memandangi potongan roti itu,
“ibuku sudah meninggal. Dulu, saat aku berkelakuan baik, beliau selalu
memberiku sepotong roti.”
Mata Anna menerawang
jauh, pandangannya menembus ladang jagung di depan sana. Rambut coklatnya
tertiup angin, wangi tubuhnya manis dan aku merasa iri karena tubuhku
menguarkan aroma kandang sapi.
“Anna, berapa kali kau
menerima jagung itu?” tanyaku, entah kenapa aku bertanya begitu.
Anna menoleh padaku
sebentar, “aku hanya menerimanya empat kali seumur hidupku, karena aku bukanlah
gadis yang baik.”
Bahkan aku menganggap
Anna gadis yang baik. Bahkan aroma tubuhnya menyiratkan kebaikan hati gadis
ini.
“Jadi aku membuat roti,
aku menganggap setiap roti yang kubuat adalah pemberian ibuku. Lalu aku
memberikannya padamu, pada gadis baik yang memerah susu, yang memanen kebun,
dan yang memberi makan anjingnya, hanya padamu,” jelas Anna.
“Kenapa aku?” tanyaku.
“Aku tidak menemukan
gadis lain yang semulia dirimu, Lily teman kecilku,” jawab Anna.
Oh, jadi sekarang aku
menjadi temannya.
“Jadi, aku mohon
terimalah roti dariku, anggap saja kau membantuku untuk mendapatkan roti
penghargaan dari ibuku,”
“Dengan senang hati,
Anna.”
***
Jadi pada pagi-pagi
lain setelah itu, aku selalu menerima roti dari Anna. Dan aku seringkali
bermain dengannya di ladang bersama Bilbo.
Sampai suatu ketika,
aku tak menerima roti itu lagi, aku juga tak bertemu Anna lagi. Dan di suatu
senja yang mendung, seseorang menyampaikan surat dari Anna.
Lily
sayang, terimakasih telah membantuku, sekarang aku bahagia, sebentar lagi aku
akan bertemu Ibuku. Jaga dirimu baik-baik. -Anna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar