Sabtu, 04 Februari 2017

Building Us

Lagu Erase milik Copeland terputar--
Setengah tiga dini hari--
Sudirman Mansion, Jakarta Pusat--

Saya sudah sejak lama tau, bahwa saya dan Made bukan apa-apa selain dua orang yang merasa kosong di satu sisi dalam diri.
Saya adalah asisten manajer keuangan di perusahaan multinasional, dan Made adalah manajer keuangannya.
Umur saya 26 tahun, sedangkan dia berumur 31 tahun.
Hubungan saya dan dia hanya terjadi di kamar, setelah pulang kantor, dan diantara kemacetan Jakarta. Atau saat dia datang ke rumah saya membawa satu kotak Pizza Hut di hari minggu.
Made, nama lengkapnya adalah Made Sukma Prasasta, orang Bali yang tidak percaya Tuhan atau agama mana pun. Namun sayangnya malah percaya sepenuhnya kepada saya.
Tapi, dia sayang dengan ketiga perempuan di hidupnya; ibunya, istrinya, dan saya.
Satu hal yang bikin saya heran, rasa sayangnya dicurahkan kepada saya, Rumaya, perempuan yang entah dia anggap apa. Kenapa?


Malam hujan di beberapa bulan yang lalu, untuk pertama kalinya Made mengirimi saya email yang bukan soal pekerjaan. Begini;

Made:
"Ada sekitar 150 orang pekerja di kantor ini, tapi kenapa cuma kamu dan saya yang lembur?"

Saya:
"Lagi krisis moneter Pak, biasa deh keuangan jadi ribet. Hehe."

Made:
"Saya antar kamu pulang boleh?"

Saya:
"Boleh banget, Pak, apalagi kalau sekalian bantu kerjaan saya. Hehehe bercanda, Pak."

Setelah email terakhir saya, Made muncul didepan qubicle saya.
"Pulang yuk, udah terlalu malem," ucapnya.
Saya diam sejenak, "sebentar lagi, Pak, tanggung. Duluan aja gapapa kok, Pak."
Dia tersenyum, "saya tunggu kamu di ruangan saya. Saya antar kamu pulang."

Hari-hari kami setelahnya diisi dengan kerja lembur, pulang dan dinner bersama. Atau bahkan, sampai breakfast bersama.
Mungkin orang-orang bilang, ini yang namanya aksi perselingkuhan. Made yang tidur dengan saya dan mengkhianati istrinya yang cantik jelita.
Tapi, entah bagaimana, bagi kami tidak. Made merasa ini bukan apa-apa, saya juga merasa ini tidak akan jadi apa-apa.
Namun saya sungguh tau, dalam ketiadaan ini, sebenarnya kami mencari eksistensi diri.
Istri Made memang cantik dan berkelas, sopan dan baik hati, namun dia tidak bisa diajak berpikir kritis dan mendalam soal berbagai filosofi hidup. Juga, masakannya tidak enak.
Sedangkan menurut Made, saya adalah orang yang bisa menggenapi semua filosofi dia soal hidup, teman diskusi tentang pemikiran absurdnya. Juga, pasta bikinan saya luar biasa enak menurutnya. Namun, saya tidak cantik, tidak berkelas, tidak sopan dan baik hati.

Tapi sungguh, saya berani sumpah, Made tidak peduli dengan kekurangan saya, dan malah sering bicara soal kekurangan istrinya yang mana memberatkannya.
Tapi lagi, Made tetap menyayangi istrinya.

"Di otak cerdasmu ini, kira-kira lagi mikirin apa?" tanyanya tiba-tiba, sambil merangkul pinggang saya dibawah selimut.
"De, belum mau pulang?" balas saya.
Dia merapatkan badannya pada saya, "Rum, kenapa selalu nyuruh saya pulang. Takut apa kamu sebenarnya, Rum?"
Saya diam sejenak sambil menatap matanya, "saya cuma tanya."
"Rum, kamu takut soal eksistensi hubungan kita ya? Kamu takut hubungan ini mengambil alih semua pikiranmu? Iya?" tanya Made.
"Bukan begitu,"
"Lalu?"
"Tidak ada,"
"Apa isi kepalamu sekarang?"
"Kamu,"
"Bagian mananya saya?"
"Bagian?"
"Ya kamu mikirin apanya saya?"
"Saya mikirin saya ini apanya kamu."
Made diam setelah saya bilang begitu.
Saya juga.
Saya melepas rangkulannya dia pinggang saya.
Namun gantinya, saya sentuh pipinya dan saya tatap matanya.
"Saya cuma mikir aja kok, nggak usah serius gitu. Terserah bagi kamu saya ini apa. Yang penting bagi saya, kamu ini Made," ucap saya.
Saya kecup bibirnya lama dan dalam. Dia membalasnya.
Saya tarik kecupan saya, dan saya lihat ke dalam matanya yang tajam dan jernih.
"Rum," panggilnya.
"Ya?"
"Sentuh dada saya,"
Saya menuruti.
Ada detak cepat disana, ada yang berpacu dalam ketidakyakinan dan berantakan.
"Detak itu punya kamu, Rum," ucap Made.
Saya tersenyum.
"Mungkin, saya sayang dengan istri saya. Namun, mungkin saya jatuh cinta dengan kamu, Rum," akunya.
Dia kecup dahi saya lama.

Dan saya menegang, luar biasa takut dengan jatuh cintanya Made.
"Saya sayang sekali dengan kamu, De,"

Tapi sayang sekali kamu malah jatuh cinta dengan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar