Sabtu, 04 Februari 2017

when we up to the air

We are automatically meet intensively.

Sudirman Mansion
Pukul 00.30
Hujan

Rasanya saya terbang saat Made bilang bahwa dirinya akan tinggal dengan saya beberapa waktu sampai pertengkaran dia dan istrinya mereda.

Saya juga masih ingat jelas saat saya bertemu dengan istrinya yang mukanya geram siang tadi, mendesak saya agar memberitau Made yang sedang meeting dengan beberapa kepala cabang kantor kami.
Saat itu, saya hanya tersenyum, membuatnya merasa nyaman dan datang sebagai bidadari bagi istri atasan saya.
"Mohon maaf sekali, Bu Lana, tapi untuk sekarang Bapak Made tidak bisa diganggu. Ibu bisa menunggu di ruangannya jika Ibu mau, sambil saya antarkan teh dan camilan buat Ibu. Bagaimana?" ucap saya waktu itu.
Lalu, tanpa disangka, Lana malah menjawab, "sekalian temani saya bisa?"
Ya, I will Lana, sekalipun kalimatmu seperti perintah bukan permintaan tolong, sekalipun kalimatmu tidak lebih dulu menanyakan apakah saya sibuk atau tidak.

Akhirnya saya datang untuk menemaninya dengan dua cangkir teh dan satu kotak bolu dari Made untuk saya tadi pagi.
"Hari ini Pak Made luar biasa sibuk, Bu. Masalahnya, perusahaan kita lagi krismon, parah deh," saya membuka perbincangan.
Bu Lana mengangguk sambil minum tehnya, "iya sih, beberapa hari ini dia juga stress. Tapi anehnya dia juga mau nambah stress dengan mau kami punya anak. Saya bingung."
Jadi masalahnya adalah Made ingin punya anak dari Lana. Baik, Made, saya tidak apa-apa, itu sepenuhnya adalah hakmu.
Saya tersenyum kepada Lana, "loh? Malah bagus dong, Bu, biar ada hiburan."
"Saya nggak mau, ribet, saya ini masih muda. Masa masih 25 tahun udah gendong bayi, teman-teman saya malah masih melajang," sungutnya.
Saya hanya tersenyum manis pada Lana.
Beberapa saat kemudian Made masuk ke ruangannya, dengan wajah kaget yang berhasil dia tutupi.
Saya buru-buru berdiri, "Pak Made, ini Ibu Lana sudah menunggu bapak dari setengah jam lalu. Saya tinggal dulu ya, Bu Lana, Pak Made, jika butuh sesuatu saya ada di meja saya."
"Eh siapa nama kamu tadi?" tanya Lana tiba-tiba.
"Rumaya, Bu," jawab saya.
"Rum, bisa nggak kamu nggak duduk di tempatmu dulu. Maksud saya, pindah duduk dulu sebentar ya, kan kamu didepan pintu banget tuh," ucapnya.
Saya kaget. Lana yang classy begini ternyata gaya bicaranya otoriter kampungan.
Saya tersenyum manis, "oh baik, Bu. Mari."

Malam ini saya betul-betul ingin tertawa sekeras-kerasnya. Mana Lana yang sering di ceritakan oleh koran dan media lokal soal gayanya yang anggun, sikapnya yang baik hati dan perhatian pada kondisi sosial. Mana Lana yang amat disayangi Made karena seluruh sifat baiknya yang tidak ada pada saya? Mana?

Saya kembali minum teh saya yang sudah hampir dingin. Malam itu hujan deras mengguyur Jakarta Pusat. Saya duduk di ruang tengah apartemen saya sambil menyalakan TV yang sama sekali tidak saya tonton.
Made keluar dari kamar saya, dengan celana pendek tanpa baju yang menutupi bagian atas tubuhnya yang tegap.
Tersenyum pada saya yang juga tersenyum ke arahnya. Made yang mulai saya sayangi dengan amat dalam.
Saya merapatkan sweater saya, "dingin loh ini, kamu shirtless begitu."
"Saya lagi panas," jawabnya sambil terkekeh.
Ia kecup bibir saya sebentar, lalu mengambil teh saya dan membawanya ke dapur untuk ditambahkan air hangat.
"Saya boleh tanya sesuatu, De?" tanya saya tanpa melihatnya.
Ia berjalan dari dapur sambil menatap saya dan mengangguk.
Ia minum teh dari cangkir itu lalu menaruhnya di meja. Sekarang, ia siap menjawab semua pertanyaan saya, mendengarkan segala penuturan saya;

"Kenapa Lana nggak mau punya anak?" tanya saya.
"Itu bahasa lain dari, kenapa saya mau dia punya anak, ya?" balasnya.
Saya diam.
"Dia nggak suka punya anak di usia yang menurutnya masih muda. 25 tahun menurut saya bukan usia muda, ya kan, Rum?" jelasnya.
Saya mengangguk.
"Lalu?"
"Kenapa kamu mau dia punya anak?" tanya saya lagi.
"Agar setidaknya, saya punya tempat buat melabuhkan rasa sayang saya. yang mana rasa sayang saya ke Lana sudah terkikis habis," jawabnya.
Saya tertawa kencang.
"Kenapa kamu?" tanya Made.
"Saya suka saat hati kamu bergerak untuk keluargamu, De, sekalipun saya bukan bagian dari itu. Saya senang kamu nggak lagi sayang sama perempuan itu, saya senang kamu mau dia punya anak dari kamu karena saya juga bener-bener nggak suka sama Lana," jawab saya, ngelantur.
Made mengerutkan alis.
"Mana Lana yang diagungkan media sebagai wanita anggun dari seorang workaholic kaya raya seperti kamu? Mana? Dia luar biasa kampungan, Made. Maaf saya jahat sama istri kamu," jelas saya, sambil tersenyum.
"Lana memang begitu, saya baru sadar. Saya kira dia penyayang, ternyata dia otoriter dan tidak punya hati," lanjut Made.
Saya mengangguk, "betul."
"Awalnya, saya kira kamu yang punya sifat itu. Kamu yang nggak punya hati untuk disakiti maupun untuk dicintai, tapi saya salah, kamu punya segala jenis hati untuk apapun. Kamu punya perasaan yang saya harus untuk menjaganya. Kamu itu murni perempuan yang saya cari, Rumaya, tapi saya terlambat menemukan kamu," jelasnya.
Saya diam.
Made menatap saya.
"Kamu tau ada pepatah soal lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali?" tanya saya.
"Tau."
Saya mengangguk.
"Rasanya saya mau menerjangmu," ucapnya, lalu memeluk saya, menggelitik saya sampai suara teriakan lepas saya menembus hujan, angin dan petir di luar jendela.
"De," panggil saya.
Dia diam dan memperhatikan saya.
"Bagaimana jika tempat untuk melabuhkan rasa sayangmu itu, biar saya yang hadirkan?" tanya saya.
Made terperanjat, "maksudmu?"
"Maksudku?" tanya saya sambil tersenyum.
Made tersenyum, "saya yakin kamu akan menolong saya, selalu."

Saya bahkan berniat selalu menggenapi segala susah dan senangmu, Made.

Made mengecup bibir saya, lama. Saya membalasnya. Sudah saya bilang, saya selalu ingin menggenapinya agar dirinya tak pernah ganjil dan sendiri.
Dia melepas kecupannya kepada saya.
"Saya ingin selalu bersama kamu,"
"Ceraikan Lana?"
Made terperanjat, "saya yakin kamu akan meminta itu."
Saya tersenyum, "saya cuma minta, tidak dituruti juga tak apa."
Made tersenyum, "tapi saya ingin menuruti semua pintamu, bagaimana?"
Saya hanya mengangguk.

Kecupannya lagi-lagi terasa di bibir saya, di pikiran saya, juga di hati saya.
Pelan-pelan suara hujan tak lagi terdengar.
Suara detak kami yang melantun dalam segala eksistensi yang kami bangun sendiri.

'Saya selalu sayang kamu'
ucapan saya mengudara.
ke langit yang sedang hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar