Sabtu, 04 Februari 2017

Hold On, Baby

Sudirman Mansion
Pukul 22.00

Bianglala tak selalu berada diatas, ia berputar dan jelas akan ada waktunya ia dibawah, lalu menanjak, lalu di puncak, lalu menurun, dan ia kembali ke dasar. Tapi, jangan biarkan ia berhenti.

"Saya harus pindah ke Singapura bersama Lana dan orangtuanya. Ada bisnis keluarga di sana, bisnisnya ayah Lana. Dia ingin saya untuk pegang cabang Singapur. Saya juga harus resign dari kantor," begitu ucapan Made malam ini, tanpa menatap saya.
Saya cuma bisa tersenyum, "itu sepenuhnya hakmu."
"Lalu bagaimana dengan hakmu, Rum? Saya memikirkan itu. Bagaimana soal bayi di kandunganmu? Bagaimana bisa saya jadi pengecut, bahkan sebelum anak ini lahir saya sudah pergi," ucapnya, frustasi.
Saya bahkan benar-benar tau bahwa dia tidak ingin pergi. Tapi, tak ada pilihan lain.
Saya sungguh tau dan mengerti itu.
"Pindah ke Singapura itu bukan pilihanmu, tapi pergi dari apapun diantara kita ini pilihanmu," ucap saya.
"Maksudmu?" tanya Made.
"Badan kamu memang pergi ke Singapur, De, namun kalau eksistensimu masih ada buat saya, ya saya akan baik-baik aja," jawab saya.
"Maksudmu via phone? email? Bullshit! Saya bahkan nggak bisa pegang perutmu, mengecup kamu, ngerasain gimana kamu merawat saya. Saya ingin cerai dari Lana tapip saya nggak bisa. Ibu saya, alasannya tetap Ibu saya. Rumaya, tolong saya," suara Made mengambang saat mengatakan itu.
Saya tersenyum sambil menyentuh pipinya, membuatnya menatap mata saya dan percaya pada saya.
"Suatu saat, saya yang akan berjuang buat kita, bukan kamu sendiri. Saya yang akan bergerak bersama kamu, bukan kamu sendiri. Saya yang akan membuat Ibu kamu mencintai saya. Tenang, Made, saya disini," jelas saya.
Saya kecup bibirnya, dalam dan perlahan, membuat getaran bibirnya tenang dan merasakan saya.
Made melepasnya, "saya tidak akan pernah pergi dari apapun yang ada diantara kita. Saya akan berjuang untuk itu. Saya akan diam-diam membangun mesin uang untuk masa depan kita dengan cara yang benar, saya akan membuat kamu merasa aman saat saya tidak di samping kamu."
"Jangan lupa, De, kamu juga harus ada disamping saya saat persalinan saya 4 bulan lagi, ya?" pinta saya.
Made mengangguk pasti, "Iya, pasti, Rumaya."

Made mengelus perut buncit saya. Ia tatap mata saya, membuat saya yakin bahwa apapun yang terjadi, saya dan Made hanya dua orang yang sedang mencari eksistensi diri dengan bersama satu sama lain.

"Rumaya, saya jatuh cinta dan sayang dengan kamu."
"Saya juga cinta dan sayang denganmu, Made."



4 bulan kemudian
Putri kami tercinta hadir ke dunia. Dengan didampingi ayah dan ibunya. Dengan ayahnya yang sepenuhnya milik ia dan ibunya.
"Terimakasih," begitu kata Made pada saya dan putri kami.
"Namanya?"
Made tersenyum, "Namanya Calya Dayita, artinya kekasih tanpa cacat. Kita panggil dia Calya, ya Rum?"
Aku mengangguk.


Tuhan memang baik..
Ia hadirkan Made dan Calya dengan kebaikan yang mengiriku.

Kisah ini ditutup dengan bianglala yang terus berada diatas, dipuncak paling bahagia yang pernah ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar