Candu pada malam yang semu telah hilang
Membelengguku dalam duka dini hari
Terakhir aku melihatmu menari di atas batu
Seperti memanggil petir dalam tenangnya malam itu
Aku terbiasa melihatmu mengutuk di tengah padi yang menguning
Menghantarkan takdir yang tak lazim disambut
Aku berhenti saat mulutmu menyumpah
Katamu, dalam tiap serapahmu, ada satu kata khidmat untukku
Yang kita binasa, tak kunjung bangkit kembali
Ular itu menukik dan terjun hingga sungai tak lagi beriak
Mungkin menghantarkan nina bobo untuk sesuatu di dalam sana
Sengaja aku tersedu malam itu
Agar kau menghasihani kunang-kunang yang tenang
Sampai akhirnya aku terbangun di dini hari ini
Tergugu
Lalu berdoa pada Tuhan,
jikalau aku tak berdaya menerima satu kata khidmat darimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar