Jumat, 10 Juni 2016

Cerita dari Asha Lestari

Nama saya Asha Lestari, umur saya baru 17 tahun. Saya naik ke kelas 3 SMA semester ini di sebuah SMA favorit.

Disini, saya mau menceritakan tentang keluarga saya, hidup saya, dan diri saya. Lewat blog yang bukan punya saya ini, saya mau numpang cerita. Ide ini berawal ketika saya mulai bercerita pada pemilik blog ini yang punya email dengan kode pos di belakangnya. Dia setuju, tapi dengan syarat bahwa cerita ini akan dia edit seperlunya tanpa sedikit pun mengurangi makna dari cerita ini.
Berawal dari saya yang menemukan alamat email si pemilik blog ini di sebuah akun media sosialnya, saya mulai menulis email ke dia. Saya bercerita tentang keluarga saya yang berantakan, tentang ayah saya yang dulunya merupakan karyawan swasta lalu di PHK. Dulu hidup saya berkecukupan, bisa dibilang dengan harta orangtua yang tidak bisa dibilang kurang, saya menjadi gadis paling disenangi selain karena pintar dan easy going. Waktu itu usia saya masih 13 tahun, saya masih baru masuk ke SMP dan akan memulai masa remaja saya.
Ketika saya percaya bahwa saya mampu menjadi remaja normal dan akan meraih prestasi gemilang di sekolah, ayah saya di PHK.
Seluruh keluarga saya terpuruk. Pasalnya, keluarga saya tidak punya usaha sampingan karena merasa cukup dengan penghasilan ayah seorang. Pesangon ayah saat itu juga tidak cukup untuk membuka usaha yang terbilang untung.
Saat itu saya masih duduk di kelas satu SMP, adik saya kelas satu SD, kakak saya akan menikah tahun itu dan abang saya akan masuk kuliah.
Saya mulai takut, sering gelisah, dan tidak percaya diri. Saya menghindari segala bentuk pergaulan, karena saya tau saya butuh uang untuk itu. Sedangkan saya tidak punya uang. Saya menjadi anak yang pendiam dan kehilangan konsentrasi. Nilai saya di semester pertama membuat saya terkejut saking jeleknya.
Tapi orangtua saya terlalu sibuk untuk peduli. Ibu mulai jualan gado-gado, juga sering menerima pesanan pastel atau lontong isi. Kakak perempuan saya depresi karena tidak jadi menikah, uangnya tiba-tiba tidak ada, lagipula takut jika berhutang. Abang saya tidak jadi kuliah, dia malah jadi sering ke bengkel atau rumah-rumah gelap dekat rumah saya. Adik saya, karena memang pada dasarnya sedikit idiot, makin memusingkan keluarga lewat tingkahnya.
Sedangkan ayah tiba-tiba jadi apatis, seakan keluarganya tidak sedang jatuh miskin. Seakan anak-anaknya baik-baik saja. Seakan dia tidak habis dipecat. Ayah tetap ikut gotong royong di lingkungan, ke masjid, begadang dengan tetangga. Tapi ayah saya bukan lagi orang yang peduli dan penyayang.

Satu orang yang saya percaya saat itu, ibu saya. Ibu menjadi satu-satunya orang yang masih waras. Ibu menjadi satu-satunya kekuatan saya yang masih mau mendengar, melihat, dan merasakan. Ibu menjadi satu-satunya yang berharga, padahal sebelumnya saya tidak begitu dekat dengannya. Saya lebih dekat dengan teman-teman saya di sekolah atau di sekitar rumah.
Abang saya tidak pernah mendengarkan kata-kata siapapun dalam keluarga. Ia bahkan sudah tidak lagi menyapa. Ia hanya tau minta uang, ambil rokok, dan bau alkohol. Hanya sebatas itulah dirinya saat itu.
Kakak saya juga tak bisa diajak bicara. Tatapannya selalu kosong, kadang saya berharap ia meledak berapi-api. Saya berharap ia marah, menangis atau berteriak. Sayangnya dia tak begitu, hingga saya merasa ia hanya bayang.
Adik saya idiot, namun satu-satunya yang bisa mengurusnya adalah saya. Ia sering berkelakuan aneh, seperti pulang dengan babak belur karena dipukuli anak tetangga, mengacak-acak kamar saya, merajuk, bahkan mengamuk sambil memukuli saya. Pada akhirnya saya akan memukulinya sampai ia lemas, anak idiot itu lemas. Lalu merengek pada Ibu, dan berakhir dengan tidur dipeluk Ibu.
Keadaan itu berlangsung sampai umur saya 17 tahun. Tidak ada yang berubah, kecuali kakak saya yang sekarang berdagang pakaian dalam di pasar.
Lalu mungkin kalian ingin tau bagaimana saya membiayai sekolah saya, dan bagaimana saya bisa masuk ke SMA favorit.
Jangan kaget, tapi diri saya ini sudah menjadi budak bagi laki-laki berumur 30 tahun. Ia berkelakuan seperti pacar saya;
"Asha sayang."
"Dear Asha."
"Ashaku yang cantik."
"Sayangku Asha."
Semua itu membuat saya resmi menjadi budaknya yang dijejali dengan omong kosong kasih sayang dan janji-janji selangkangan. Saya tidak mau memberitahu kalian siapa namanya, tidak pula pada pemilik blog ini.
Terserah kalian ingin percaya atau tidak, namun dengan cara itulah saya membiayai hidup saya.
Saya juga tidak akan memberitahu kalian dimana saya bertemu dia, apa saja yang saya lakukan dengannya, kapan biasanya saya bertemu dia, dan bagaimana bisa saya melakukan itu.
Tapi satu hal yang mau saya beritahu, uang adalah hidup, jika tidak punya uang maka tak bisa hidup. Jika kalian tidak setuju, selamat, hidup kalian tidak fokus pada pencarian uang. Hidup kalian sudah cukup baik sehingga uang bukan menjadi masalah bagi kalian. Jika ditanya soal bahagia, saya akan menjawab bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Namun, uang membuat saya baik-baik saja.
Saya juga mau bilang, bahwa saya tidak melulu mengiyakan apa yang diinginkan laki-laki ini. Namun ia akan melulu mengiyakan apa yang diinginkan saya, bahkan berkali-kali ia mengatakan bahwa ia akan menikahi saya kelak. Entah itu omong kosong atau niat tulus. Saya tidak peduli, saya hanya butuh uang.
Lewat cerita ini, saya ingin memberitahu kalian bahwa mungkin, teman-teman kalian menjalani masa sulit seperti saya. Mereka mungkin berhenti untuk mempedulikan omongan kalian, bullying, gosip, penyebaran aib, cacian.
Mereka berhenti untuk mempedulikan kalian, mereka tak peduli apapun yang tidak bisa diuangkan.
Jadi mulai sekarang berhenti untuk mencaci hidup orang lain. Kalian tidak tau apapun dibaliknya. Berhenti mencaci orang-orang yang berdagang di sekolah, yang tidak pernah mengganti sepatunya, yang tidak pernah aktif di ekskul apapun, yang tidak terlihat di sosial media manapun, yang tidak bergaul terlalu banyak. Berhenti mencaci mereka.
Karena saya, Asha, adalah satu contoh nyata dari kehidupan seperti mereka.
Saya ini, Asha Lestari, bahkan berkali-kali disakiti namun tetap tegar berdiri dan mau berbagi. Berbagi makna kehidupan yang selama ini luput dari tatapan kalian. Saya ini mau memberitahu kalian tentang apa dibalik kehidupan keras seorang remaja, dan apa yang tidak kalian ketahui tapi selalu kalian caci.
Teman-teman, bersyukurlah karena kalian tidak seperti saya. Bersyukurlah karena kalian bisa tidak seperti saya. Bersyukurlah karena hidup dalam keluarga yang waras. Bersyukurlah karena sedang bersama laki-laki baik.
Dan bersyukurlah karena saat ini kalian baik-baik saja, entah esok lusa.
-Asha Lestari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar