Sabtu, 20 Agustus 2016

Mulai #Krisanti

Tadinya, gue nggak yakin kalau Jogjakarta sudah semewah ini. 2009 silam, terakhir kali gue kemari, Jogja masih sederhana, terlihat lugu dengan jam malamnya yang tanpa gemerlap. Masih polos, tanpa hiruk-pikuk yang sekarang terlihat abadi.

Jogja tahun 2016 ini ramai sentosa…

Gue sampai di Stasiun Tugu pukul 5 sore, keluar dari stasiun dan naik taksi mengarungi kemacetan Jogja. Gue kira, hanya becak dan bule yang berlalu-lalang, ternyata juga para muda-mudi yang mau pulang.
Ditambah hujan sore ini, Jogja semakin macet parah. Walaupun dari Tugu ke rumah Ayah dan Ibu hanya sekitar 15 menit, nyatanya sudah setengah jam dan gue masih di taksi. Jogja nggak ada bedanya dengan Jakarta, Bekasi, Depok dan sekitarnya.
Dan gue menyesali keputusan gue untuk datang kesini.
Ting!
Whatsapp Ayah;
‘Sudah dimana, Kris? Kok lama bener.’
Gue membalas;
‘Aku masih di taksi, Ayah. Macet parah huhu.’
Ayah membalas;
‘Ya sudah hati-hati, putriku. Ibu sudah nyeduh wedang jahe nih hehe’
Balasan Ayah sukses membuat gue tersenyum sekaligus rindu. Penyesalan beberapa menit yang lalu langsung hilang.

Gue, Krisanti Kusuma Wardhani, perempuan berumur 22 tahun dan baru lulus dari sebuah universitas negri di Surabaya, ceritanya lagi kangen orangtua. Sudah 4 tahun gue kuliah di Surabaya, tinggal sendirian dan hanya ditemani oleh hebohnya pergaulan. Tiba-tiba memutuskan untuk berkarir di Jogja, dekat Ayah dan Ibu yang juga baru pindah dari Jakarta. Gue sudah melamar ke beberapa perusahaan media cetak dan penerbitan di Jogja sebagai editor, namun sampai sekarang lamaran tersebut belum ada kabar. Tapi karena gue keburu kangen Ayah dan Ibu, jadilah secara impulsif gue pindah ke Jogja.
Ayah dan Ibu baru pindah ke Jogja beberapa bulan lalu. Pekerjaan Ayah sebagai dokter menuntutnya untuk pindah ke rumah sakit cabang Jogja, entah karena alasan apa gue belum tahu pasti. Lalu mengikut Ayah, Ibu yang berprofesi sebagai guru bahasa inggris di sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris ternama minta dimutasi ke Jogja. Jadilah mereka sepakat untuk pindah ke sebuah komplek perumahan di Jogja.
Lamunan gue berakhir saat taksi berhenti didepan sebuah rumah sederhana berwarna krem dan coklat dengan nomor rumah tergantung dekat kotak pos di pagar.
“Yang ini mbak?” tanya sopir taksi.
Gue terdiam sejenak, “sebentar ya, Pak.”
Gue turun dari taksi, namun, sebelum mencapai pintu pagar, Ayah dan Ibu sudah lebih dulu keluar sambil tersenyum. Ayah membawa payung lalu menjemput gue.
Setelah barang bawaan gue diturunkan dari taksi, gue masuk ke rumah.

Selamat menempuh hidup baru, Krisanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar