Kamis, 17 Maret 2016

Friendzone

Tahukah kamu, diam-diam aku ingin menyudahi semuanya saja. Menyudahi pertemanan kita, menyudahi aku dan kamu, menyudahi aku dan dia, menyudahi dia dan kamu. Rasanya bodoh untuk tetap mempertahankan semua ini, yang bahkan kita sendiri masih meraba ada apa.

Setelah bertahun-tahun bersama, seharusnya kita berhenti menyakiti satu sama lain. Ada apa dengan kita? Meraba seperti si buta. Bahkan kalau mau, kita bisa berkumpul dan bicara. Entah hati siapa yang akan terluka, setidaknya kita harus mengerti. Tidakkah kamu pikir begitu?

Masalahnya selalu sama, aku yang mencoba mengejarmu, selalu tiba-tiba tersungkur jatuh saat melihatmu dengannya. Bukan hal baru, namun aku belum terbiasa. Bagaimana dia bisa sedekat itu denganmu, aku masih belum paham. Dimana letak kesalahanku, aku juga tak menemukan.

Bicara soal dia, aku juga bukannya orang yang tak mengerti sama sekali, aku tak sebegitu tolol. Aku mengerti bagaimana rasa, bagaimana binar dan bagaimana getar suara itu saat membicarakanmu.
Dia jatuh cinta, jatuh cinta, sayangnya padamu.

Masalahnya, aku juga telah lama jatuh cinta padamu.

Tidak, aku dan dia tidak buru-buru berkata ini cinta. Aku pikir, aku sudah memahami ini cinta dari sejak lima tahun lalu. Aku sudah paham bahwa aku mencintaimu dari sejak itu. Namun itu belum cukup bagiku untuk menata hati juga rasa yang keliru ini. Waktu selama itu belum cukup untuk membuatku berani mengeksekusi rasa yang keliru ini.

Jelas keliru, aku dan sahabatku mencintai kamu, yang merupakan sahabat kami juga. Mana bagian yang benar? Tidak ada.

Lalu bicara soal kamu. Kamu hanya bergeming, seperti tembok batu tinggi yang dulu sering kita datangi. Tak pahamkah kamu bahwa ada dua yang menggebu disekitarmu. Kamu yang entah, bersikap seakan buta dan mati rasa. Dengan dalih persahabatan yang luar biasa membingungkan buatku. Kamu bicara sebagai orang yang menyenangkan dengannya, tapi kamu diam seperti batu saat didekatku. Aku masih belum mengerti apa sebabnya, namun pasti ada yang kamu lakukan entah untuk apa dan siapa.

Dari semua tempat singgahku, dari semua yang semu, aku pikir hanya dirimu labuhanku.
Namun entah, rasanya tidak tepat saat memikirkan dia, memikirkan kita.
Aku bukan orang yang terobsesi akan dirimu, baiklah jika semua tak seperti harapanku. Namun, tidakkah menurutmu kita semua butuh kejelasan atas kekeliruan yang sedang terjadi? Tidakkah kamu ingin tahu bagaimana aku padamu, bagaimana dia padamu? Tidakkah kamu ingin tahu, bahwa ada suatu kesalahan yang berkembang semenjak kita dewasa? Tidakkah kamu pikir aku sudah terlalu lama digantung dengan dalih persahabatan?

Atau, selama ini, mungkin aku belum meraba sesuatu antara kamu dan dia? Begitu? 
Apa aku terlalu buta juga bodoh untuk menyadari bahwa kalian dua sejoli?

Apakah ternyata, selama ini aku hanya penghalang yang lancang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar