Selasa, 16 September 2014

Kami



Kami, para pelajar yang pada pagi hari datang memakai seragam membosankan dan mendengarkan teriakan-teriakan monoton si tukang parkir. Dengan satu tujuan, kami datang ke sekolah untuk kebahagiaan kami di masa depan.

“Kamu udah ngerjain PR sejarah, Tih?” tanya Salmah padaku pagi itu.
“Baru setengah, kamu?” balasku.
“Baru setengah juga. Yaudah, aku coba liat punya yang lain deh,” ucap Salmah lalu pergi meninggalkanku.
Kegiatan kami di pagi hari, saling bertukar pekerjaan rumah yang pada hari itu harus diserahkan pada guru. Iya, kami semua, dari yang paling rajin, sampai yang paling malas sekalipun. Tentu saja, ini akan menjadi kenangan di akhir nanti.

Pada jam pelajaran ketiga tidak ada guru, karena guru yang bersangkutan sedang sakit saat itu. Kelas kami rusuh sekali, semua berbicara dan berteriak-teriak. Semua murid kelas kami mengeluarkan suara, kecuali Zul si pembuat onar di kelas kami yang sedang tidur di pojok ruangan saat itu.
“Ponselku hilang!” teriak Ami yang mampu membuat kami semua terdiam. Tidak ada suara kecuali tangisan Ami yang pelan-pelan mulai pecah. Sontak, semua murid langsung memastikan keberadaan ponsel masing-masing.
Suara Farah yang melengking membuat kami bertambah pucat, “ponselku juga hilang!”
Tak lama kemudian, Faiq mengucapkan hal yang sama.
Hebat, tiga orang di kelas kami kehilangan ponselnya. Siapa yang melakukannya? Tidak mungkin salah satu dari kami, kan? Lalu siapa? Tidak ada anak-anak kelas lain yang masuk ke kelas kami. Tidak ada orang lain yang masuk ke kelas kami.
Suasana kelas kami menjadi lebih kacau dari sebelumnya. Kepanikan dan ketakutan mulai melanda diri kami masing-masing. Setiap murid di kelas kami sibuk dengan kesimpulannya sendiri. Layaknya kesimpulan mereka harus diterima oleh orang lain dan kesimpulan itu pasti benar.
“Kita harus memeriksa semua tas di kelas ini!” teriak Julius.
Kami semua menyetujui usulnya. Tiara memerintahkan kami untuk maju ke depan kelas dan meninggalkan tas kami di bangku masing-masing.
Farah, Ami, dan Faiq memeriksa semua tas. Sekujur tubuh murid perempuan juga dirazia oleh Tiara dan sekujur tubuh murid laki-laki dirazia oleh Julius. Lalu Julius dan Tiara meminta tubuh mereka juga di razia oleh Reza dan Riqsa. Apapun bisa terjadi di saat seperti ini kan?
Farah terpekik kaget saat memeriksa tas milik Vio. Ketiga ponsel yang hilang ada di tas milik Vio. Ekspresi Vio tidak kalah terkejut dibanding kami semua. Apa-apaan ini?
“Aku nggak percaya kamu sejahat ini, Vi,” ucap Salmah yang merupakan teman sebangku Vio.
“Vio, tega sekali sih kamu. Kita ini kan teman,” ucap Julius dengan sinis.
“Kamu mau ponsel seperti ini, Vi? Caranya bukan dengan mencuri!” bentak Farah sambil mengacungkan ponselnya.
“Kenapa kalian menuduh aku? Bukan aku yang mencurinya! Aku nggak mungkin sejahat itu sama kalian! Memang kalian lihat aku mencurinya?” bentak Vio membela diri.
“Udah jelas ya, Vi, ponselku ada di tas kamu!” balas Ami dengan penuh penekanan.
“Mungkin aja aku dijebak sama pencuri itu! Sumpah, bukan aku yang melakukannya!” balas Vio dengan suara bergetar.
“Nggak perlu mengelak kamu, Vi. Semuanya sudah jelas!” bentak Tiara.
“Dasar pencuri!” bentak Farah.
Vio mulai menangis, “bukan aku, itu bukan perbuatanku.”
“Vio, kesini sebentar!” teriak Ibu Khusnul yang merupakan wali kelas kami dari depan pintu kelas. Di samping beliau ada Faiq dengan muka merah padam.
Vio menghampiri Ibu Khusnul dan beliau mengajak Vio berbicara di meja guru kelas kami. Berkali-kali kami mendengar Vio berusaha meyakinkan Ibu Khusnul bahwa bukan dia yang melakukan ini.
Tiba-tiba, salmah yang duduk tepat di belakangku menepuk bahuku dan membisikkan sesuatu.
“Santai aja, jangan tegang begitu. Hari ini Vio ulang tahun, ini semua rencanaku dan beberapa orang di kelas,” bisik Salmah.
Sontak, mataku terbelalak. Aku buru-buru memberitahu Annisa yang merupakan teman sebangkuku, dan reaksinya sama sepertiku. Dan ucapan Salmah pun menjadi pesan berantai yang mengejutkan beberapa orang.
Benar saja, sedetik kemudian Ulfah dan Suci masuk ke kelas dengan membawa kue ulang tahun yang di atasnya terdapan lilin berbentuk angka 15.
“Selamat ulang tahun, kami ucapkan…” kami pun menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Vio.
Ibu Khusnul menyalami Vio yang kali ini menangis karena terharu. Kami semua menghampiri Vio yang sedang meniup lilin dan kami sibuk menggoda Vio yang ternyata gampang sekali menangis.
“Kalian ini benar-benar, aku takut sekali tadi,” ucap Vio dengan sisa-sisa tangisnya.
“Kalau nggak bersalah kenapa harus takut?” balas Ami.
“Karena kalian mengancam akan melaporkanku ke polisi, padahal bukan aku yang melakukan ini,”
Ami mencolekkan krim kue ke wajah Vio, “kalau kamu menangis, Vi, polisi bisa mengira memang kamu yang melakukan ini.”
Kami semua tertawa mendengar ucapan Ami. Benar juga.
“Tapi terimakasih karena sudah repot membuat kejutan untukku,” ucap Vio.
Vio mengucapkan terimakasih kepada kami sambil menangis dan kami meminta maaf sudah membuatnya menangis.
“Ini semua ide siapa, sih?” tanya Vio.

Serentak semuanya menunjuk Salmah yang langsung membelalakan mata. Vio mengejar Salmah dan mencolekkan krim kue ke pipinya. Lalu kami sibuk berfoto dengan wajah yang penuh dengan krim. Wajah Vio yang paling parah. Beberapa dari kami memberikan kado untuk Vio.
Tak berapa lama kami sudah larut dalam tawa.

Kami bahagia pernah dipersatukan. Kami juga bahagia pernah menjadi teman. Dengan suka-duka yang kami jalani bersama, kami merasa utuh.
Kami saling bertumpu pada teman. Saling menggenggam erat tangan teman untuk tetap kuat. Kami bahagia menyadari bahwa kami adalah satu bagian.
Walaupun kami tidak sehebat mereka. Walaupun kami hanya yang kedua. Kami merasa sempurna telah berbahagia bersama.
Lalu perpisahan menjadi sangat menyakitkan bagi kami.

Sampai jumpa, kawan, di pagi selanjutnya.

1 komentar: