Kami, para pelajar yang
pada pagi hari datang memakai seragam membosankan dan mendengarkan
teriakan-teriakan monoton si tukang parkir. Dengan satu tujuan, kami datang ke
sekolah untuk kebahagiaan kami di masa depan.
“Kamu
udah ngerjain PR sejarah, Tih?” tanya Salmah padaku pagi itu.
“Baru
setengah, kamu?” balasku.
“Baru
setengah juga. Yaudah, aku coba liat punya yang lain deh,” ucap Salmah lalu
pergi meninggalkanku.
Kegiatan
kami di pagi hari, saling bertukar pekerjaan rumah yang pada hari itu harus
diserahkan pada guru. Iya, kami semua, dari yang paling rajin, sampai yang
paling malas sekalipun. Tentu saja, ini akan menjadi kenangan di akhir nanti.
Pada
jam pelajaran ketiga tidak ada guru, karena guru yang bersangkutan sedang sakit
saat itu. Kelas kami rusuh sekali, semua berbicara dan berteriak-teriak. Semua
murid kelas kami mengeluarkan suara, kecuali Zul si pembuat onar di kelas kami
yang sedang tidur di pojok ruangan saat itu.
“Ponselku
hilang!” teriak Ami yang mampu membuat kami semua terdiam. Tidak ada suara
kecuali tangisan Ami yang pelan-pelan mulai pecah. Sontak, semua murid langsung
memastikan keberadaan ponsel masing-masing.
Suara
Farah yang melengking membuat kami bertambah pucat, “ponselku juga hilang!”
Tak
lama kemudian, Faiq mengucapkan hal yang sama.
Hebat,
tiga orang di kelas kami kehilangan ponselnya. Siapa yang melakukannya? Tidak
mungkin salah satu dari kami, kan? Lalu siapa? Tidak ada anak-anak kelas lain
yang masuk ke kelas kami. Tidak ada orang lain yang masuk ke kelas kami.
Suasana
kelas kami menjadi lebih kacau dari sebelumnya. Kepanikan dan ketakutan mulai
melanda diri kami masing-masing. Setiap murid di kelas kami sibuk dengan
kesimpulannya sendiri. Layaknya kesimpulan mereka harus diterima oleh orang
lain dan kesimpulan itu pasti benar.
“Kita
harus memeriksa semua tas di kelas ini!” teriak Julius.
Kami
semua menyetujui usulnya. Tiara memerintahkan kami untuk maju ke depan kelas
dan meninggalkan tas kami di bangku masing-masing.
Farah,
Ami, dan Faiq memeriksa semua tas. Sekujur tubuh murid perempuan juga dirazia
oleh Tiara dan sekujur tubuh murid laki-laki dirazia oleh Julius. Lalu Julius
dan Tiara meminta tubuh mereka juga di razia oleh Reza dan Riqsa. Apapun bisa
terjadi di saat seperti ini kan?
Farah
terpekik kaget saat memeriksa tas milik Vio. Ketiga ponsel yang hilang ada di
tas milik Vio. Ekspresi Vio tidak kalah terkejut dibanding kami semua.
Apa-apaan ini?
“Aku
nggak percaya kamu sejahat ini, Vi,” ucap Salmah yang merupakan teman sebangku
Vio.
“Vio,
tega sekali sih kamu. Kita ini kan teman,” ucap Julius dengan sinis.
“Kamu
mau ponsel seperti ini, Vi? Caranya bukan dengan mencuri!” bentak Farah sambil
mengacungkan ponselnya.
“Kenapa
kalian menuduh aku? Bukan aku yang mencurinya! Aku nggak mungkin sejahat itu
sama kalian! Memang kalian lihat aku mencurinya?” bentak Vio membela diri.
“Udah
jelas ya, Vi, ponselku ada di tas kamu!” balas Ami dengan penuh penekanan.
“Mungkin
aja aku dijebak sama pencuri itu! Sumpah, bukan aku yang melakukannya!” balas
Vio dengan suara bergetar.
“Nggak
perlu mengelak kamu, Vi. Semuanya sudah jelas!” bentak Tiara.
“Dasar
pencuri!” bentak Farah.
Vio
mulai menangis, “bukan aku, itu bukan perbuatanku.”
“Vio,
kesini sebentar!” teriak Ibu Khusnul yang merupakan wali kelas kami dari depan
pintu kelas. Di samping beliau ada Faiq dengan muka merah padam.
Vio
menghampiri Ibu Khusnul dan beliau mengajak Vio berbicara di meja guru kelas
kami. Berkali-kali kami mendengar Vio berusaha meyakinkan Ibu Khusnul bahwa
bukan dia yang melakukan ini.
Tiba-tiba,
salmah yang duduk tepat di belakangku menepuk bahuku dan membisikkan sesuatu.
“Santai
aja, jangan tegang begitu. Hari ini Vio ulang tahun, ini semua rencanaku dan
beberapa orang di kelas,” bisik Salmah.
Sontak,
mataku terbelalak. Aku buru-buru memberitahu Annisa yang merupakan teman
sebangkuku, dan reaksinya sama sepertiku. Dan ucapan Salmah pun menjadi pesan
berantai yang mengejutkan beberapa orang.
Benar
saja, sedetik kemudian Ulfah dan Suci masuk ke kelas dengan membawa kue ulang
tahun yang di atasnya terdapan lilin berbentuk angka 15.
“Selamat ulang tahun,
kami ucapkan…” kami pun menyanyikan lagu selamat ulang
tahun untuk Vio.
Ibu
Khusnul menyalami Vio yang kali ini menangis karena terharu. Kami semua
menghampiri Vio yang sedang meniup lilin dan kami sibuk menggoda Vio yang
ternyata gampang sekali menangis.
“Kalian
ini benar-benar, aku takut sekali tadi,” ucap Vio dengan sisa-sisa tangisnya.
“Kalau
nggak bersalah kenapa harus takut?” balas Ami.
“Karena
kalian mengancam akan melaporkanku ke polisi, padahal bukan aku yang melakukan
ini,”
Ami
mencolekkan krim kue ke wajah Vio, “kalau kamu menangis, Vi, polisi bisa
mengira memang kamu yang melakukan ini.”
Kami
semua tertawa mendengar ucapan Ami. Benar juga.
“Tapi
terimakasih karena sudah repot membuat kejutan untukku,” ucap Vio.
Vio
mengucapkan terimakasih kepada kami sambil menangis dan kami meminta maaf sudah
membuatnya menangis.
“Ini
semua ide siapa, sih?” tanya Vio.
Serentak
semuanya menunjuk Salmah yang langsung membelalakan mata. Vio mengejar Salmah
dan mencolekkan krim kue ke pipinya. Lalu kami sibuk berfoto dengan wajah yang
penuh dengan krim. Wajah Vio yang paling parah. Beberapa dari kami memberikan
kado untuk Vio.
Tak
berapa lama kami sudah larut dalam tawa.
Kami bahagia pernah
dipersatukan. Kami juga bahagia pernah menjadi teman. Dengan suka-duka yang
kami jalani bersama, kami merasa utuh.
Kami saling bertumpu
pada teman. Saling menggenggam erat tangan teman untuk tetap kuat. Kami bahagia
menyadari bahwa kami adalah satu bagian.
Walaupun kami tidak sehebat
mereka. Walaupun kami hanya yang kedua. Kami merasa sempurna telah berbahagia
bersama.
Lalu perpisahan menjadi
sangat menyakitkan bagi kami.
Sampai
jumpa, kawan, di pagi selanjutnya.
Aaaa loveeeuu eh gajadidengg ew♥
BalasHapus