Hari
ini hujan. Aku menunggu Ibu di pelataran TK dengan tidak ada orang selain
seorang anak lelaki yang dikenal sangat hiperaktif bernama Arul yang sedang
bermain hujan-hujanan.
Di persimpangan itu aku melihat Ibu
dengan payung kuning kesukaanku sedang tersenyum padaku. Aku melambaikan tangan
dengan gembira. Akhirnya…
“Maaf Ibu terlambat, Bibi Ainun baru
saja mengalami masalah, jadi tadi beliau bercerita sedikit lama pada Ibu. Kau
membawa payung?” ucap Ibu saat sudah berada di depanku.
“Tidak masalah, yang penting
sekarang Ibu sudah disini. Tidak, aku tidak membawa payung,” jawabku.
“Kau ini, sudah berapa kali Ibu
bilang untuk membawa payung, ini musim hujan, kau tahu? Besok-besok jangan
diulangi lagi,” nasehat Ibu, sambil kami berjalan beriringan meninggalkan
sekolahku.
“Aku suka payung ini, tapi Ibu tidak
pernah membiarkanku membawanya,” ucapku sambil cemberut.
Ibu tersenyum, “ini terlalu besar
untukmu, kau bisa tidak terlihat jika memakai ini.”
Aku semakin cemberut.
***
Aku tinggal berdua dengan Ibu,
mungkin dari aku lahir. Aku tidak tahu dimana Ayah, tapi aku yakin beliau sudah
menyakiti Ibu dengan sangat.
“Makanlah sayurnya. Kau tahu? Gadis
remaja harus memakan banyak sayur, agar kulitnya halus,” nasehat Ibu saat melihatku
menyingkirkan sayuran dari piringku.
“Tidak, aku tidak mau. Rasanya tidak
enak, Bu. Lagi pula, aku bisa memakai pelembab kulit agar kulitku tetap bagus,”
balasku.
“Ah, gadis berumur 16 tahun memang
menyebalkan bila dinasehati,” ucap Ibu sambil terkekeh. Aku pun hanya bisa
menampilkan deretan gigiku yang putih.
Kau tahu? Aku mencintai Ibu dengan
sangat, seperti tak bisa melihat wajah Ibu yang marah, atau sedih karena
perlakuanku.
***
Siang itu aku pulang dengan mata
berkaca-kaca. Aku tidak banyak bercerita pada Ibu karena aku ingin sendiri di
kamar. Ada sesuatu yang terjadi di sekolah tadi. Akhirnya aku hanya menangis di
kamar, meninggalkan Ibu dengan tatapan bingung dan khawatir yang ditujukan
kepadaku.
Ibu mengetuk pintu sambil memanggil
namaku. Aku pun membukanya.
“Apa yang terjadi, Sayang?” tanya
Ibu sambil mengelus rambutku.
“Setelah ini aku akan benar-benar
membenci lelaki, Bu,” ucapku diiring tangis yang tadi sudah mulai reda.
“Ada apa? Memangnya apa yang dia
lakukan padamu?” tanya Ibu lagi.
“Dia bilang, dia akan mempertahankan
hubungan ini, dia tidak akan membohongiku dan dia tidak akan memilih perempuan
lain selain diriku. Tapi tadi aku melihatnya menggandeng tangan seorang perempuan,
dia adalah seniorku yang sangat cantik. Aku membencinya, Bu, aku tidak akan
pernah mempercayai lelaki lagi,” jelasku pada Ibu.
“Lalu bagaimana nanti jika kau
menikah? Kau akan hidup dengannya, bahagia bersamanya, mengasuh seorang anak
darinya. Kau bilang, kau ingin mencium bibir seorang lelaki yang akan menjadi
suamimu nanti?” tanya Ibu dengan nada menegurku.
“Tidak, aku tidak akan melakukannya.
Aku tidak ingin menikah! Aku ingin tinggal bersama Ibu selamanya,” jawabku
dengan penuh penekanan diiringi tangis yang semakin menjadi-jadi.
“Tenangkan dirimu dulu, kau pasti
akan menyesal pernah bicara seperti ini,” ucap Ibu sambil memelukku yang terus
menangis.
“Tidak, tidak, Bu. Aku tidak akan
menyesal. Aku tidak mau hidup dengan lelaki. Dimana Ayah? Dia bahkan pergi
tanpa sempat aku melihatnya. Aku yakin dia pasti menyakiti Ibu juga. Aku tidak
mau hidup dengan lelaki, mereka semua sama saja, mereka brengsek, Bu,” aku
masih terus menangis dipelukan Ibu.
Ibu mempererat pelukannya,
“percayalah bahwa ada lelaki yang ditakdirkan untukmu. Jangan jadikan kisah Ibu
dan Ayah sebagai pandanganmu. Ibu yang salah, Ibu mencintai lelaki yang salah,
Sayang.”
Tangisku seperti tidak akan
berhenti, “aku, aku takut, Bu, aku takut mencintai lelaki yang salah, Bu.”
Aku bahkan hanya ingin hidup bersama
Ibu, tanpa ada seorang lelaki disisiku. Aku hanya ingin terus mendampingi Ibu.
Aku hanya ingin terus menyayangi Ibu seperti Ibu yang terus menyayangiku.
***
“Kapan dia datang? Ibu tidak sabar
melihat bagaimana rupanya. Apa kau sudah izin tidak masuk kerja hari ini pada
atasanmu?” tanya Ibu.
“Tentu saja aku sudah izin, Bu,
kalau tidak begitu gajiku akan segera dipotong,” jawabku sambil terkekeh.
“Ah mengapa dia lama sekali? Apa dia
tahu sudah membuat wanita tua seperti Ibu menunggu lama sekali?” gerutu Ibu
dengan senyuman dan tatapan bahagia di wajahnya yang mulai terlihat keriput.
“Sebentar lagi dia pasti datang, Bu.
Dia bilang dia sudah dalam perjalanan ke sini,” jawabku dengan senyum bahagia.
Garis wajah Ibu sudah terlihat tua
dan lelah. Walaupun begitu Ibu tetap cantik dengan hidung bangir, mata bundar,
dan bibirnya yang selalu mengulum senyum dengan tulus. Belakangan Ibu menjadi
cepat lelah. Aku ingin Ibu menjalani kelas yoga agar lebih santai dan sehat.
Tapi Ibu tidak mau, Ibu hanya akan menikmati masa tuanya dengan dilayani
olehku, tidak dengan yang lain.
Semoga Ibu baik-baik saja.
***
Hari ini adalah acara penikahanku
dengan kekasihku yang beberapa waktu lalu datang untuk melamarku. Lelaki yang
sama, yang telah membuat Ibu menunggu waktu itu hanya untuk kedatangannya ke
rumahku. Amir.
Aku melihatnya berdiri di altar
dengan gagah dan sedang menungguku yang sedang berjalan menuju kesana dengan Paman
Bram (suami Bibi Ainun) disampingku. Setalah sampai di altar, Paman menyerahkan
tanganku pada Amir, yang diterima dengan setulus hatinya.
Aku melihat senyum bahagia di bibir
Ibu. Dengan rambut putihnya yang disanggul dan gaun selutut yang sederhana. Aku
bahagia dengan kesempurnaan saat ini.
***
Aku masih tinggal dengan Ibu. Amir menjadi
satu-satunya lelaki di rumah ini. Putriku, Anggi, sangat amat menyayangi Ibu.
Dia bilang neneknya adalah kebahagiaannya di urutan ketiga setelah aku dan
Amir. Dia terlihat lucu sekaligus dewasa. Kata Ibu, Anggi mirip sekali
denganku.
Amir
satu-satunya lelaki yang membuatku percaya bahwa lelaki juga mempunyai hati
yang tulus untuk mencintai wanita. Dia seperti keajaiban bagiku.
“Kau
ingat saat kau bilang tidak mau menikah? Ibu senang kau tidak mempertahankan
ikrar konyolmu itu setelah bertemu Amir,” ucap Ibu suatu ketika.
“Aku
mencintai lelaki yang tepat, Bu,” balasku sambil tersenyum bahagia.
Ibu
tersenyum bahagia tanda ia setuju.
***
Suatu
pagi aku terbangun. Aku bingung mengapa pagi ini Ibu belum bangun, tidak
seperti biasanya.
Aku
membuka kamar Ibu. Ibu tidur dengan wajah tenang, setenang air didanau dekat
rumah kami. Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya.
“Ibu,”
panggilku. Tidak ada respon.
Jantungku
mulai berdebar. Aku memegang lehernya mencari nadinya. Tidak ada, tidak ada
yang berdenyut. Ah mungkin aku yang tidak tahu dimana letak nadinya. Aku pun
menaruh tanganku didepan lubang hidungnya. Tidak ada nafas yang terhembus. Ah
mungkin memang tidak terasa. Aku memegang dadanya, mencoba merasakan detak
jantungnya. Tidak ada, tidak ada yang berdetak disini.
“Ibu,
Ibu tolong bangun, Bu. Ini sudah terlalu siang. Ibu, aku mohon bangunlah,”
ucapku dengan lebih keras. Aku mengguncang tubuh Ibu. Ibu tetap tenang.
Amir
menghampiriku dengan wajah yang terlihat baru bangun tidur.
“Ibu,
Ibu, tolong bangun, Bu. Ibu, bangunlah, Bu,” ucap Amir sambil menggoncang Ibu.
Dia juga memeriksa denyut nadi dan nafas Ibu.
Amir
pun memelukku erat sekali. Aku menangis dalam pelukannya. Tubuhku terasa lemas
dan air mataku seperti tak mau berhenti mengalir.
“Ibu
sudah pergi, Sayang, beliau sudah pergi,” bisik Amir.
“Ibu,
Ibu aku mohon bangun. Maafkan aku, Bu. Maafkan aku. Ibu bangunlah, Ibu belum
melihat Anggi di Sekolah Dasar. Ibu aku mohon bangun, Bu,” ucapku dengan
terbata-bata. Tubuhku jatuh ke bawah, aku terduduk karena lemas sekali. Aku
melihat Amir menangis dan Anggi yang mengintip takut-takut dari pintu kamar
Ibu.
Aku
percaya Ibu sudah tenang disana. Tapi apakah harus secepat ini? Apa Tuhan tidak
bisa menundanya terlebih dahulu. Ibu, aku bahkan belum mengatakan bahwa aku
mencintaimu, Bu.
Ibu
meninggalkan dua pucuk surat untukku dan untuk Amir.
Untuk
menantuku, Amir:
Aku
tahu aku bukan mertua yang baik untukmu. Maaf karena menitipkan putriku yang
sangat manja padamu. Tapi terimakasih karena telah menerimanya dan memilihnya
menjadi pendampingmu.
Aku
senang kau menyayangiku seperti akulah Ibu kandungmu. Aku bahagia memiliki
menantu yang menyayangiku dan menyayangi putriku. Putriku terlihat kuat, tapi
sebenarnya dia sangat rapuh seperti daun di musim gugur. Tolong biarkan putriku
bertumpu padamu.
Amir,
tolong buat putriku bahagia selama hidupnya. Aku mempercayakannya padamu. Aku
juga mohon untuk membimbing Anggi menjadi gadis yang luar biasa.
Amir,
jadikan kedua perempuan itu Ratumu. Jangan kau sakiti mereka, aku mohon.
Note:
Putriku sangat mencintaimu, Amir.
-Ibu Mertuamu
Untuk
putriku tercinta:
Sayang,
maaf Ibu pergi terlalu cepat. Maaf meninggalkanmu secepat ini. Percayalah
Sayang, Tuhan telah mengaturnya. Tolong maafkan Ibu.
Sayang,
maaf Ibu belum bisa menjadi Ibu yang sempurna untukmu, maaf Ibu belum
sepenuhnya membimbingmu. Sayang, jagalah suami dan anakmu. Jadilah ibu dan
istri yang kuat. Sayang, jaga Amir, dia adalah rumahmu sekarang. Sayang,
bimbinglah Anggi menjadi wanita luar biasa sepertimu. Berbahagialah setelah
ini. Tolong hapus air matamu setelah ini. Ibu mohon, ikhlaskan Ibu yang akan
istirahat.
Sayang,
Ibu mencintaimu, sangat. Jaga dirimu.
-Ibu
Surat
untukku basah setelah aku membacanya. Aku bahagia memiliki Ibu yang sangat
mencintaiku.
Ibu,
aku juga mencintaimu.
Ibu.
Aku memiliki seorang
putri yang mencintaiku sampai akhir hayatku. Yang menjagaku, dan yang selalu
mebuatku bersemangat menjalani hidup ini. Tanpa dia disampingku, tanpa siapapun
kecuali Ainun dan Bram, aku membimbingnya menjadi wanita luar biasa. Tanpa
pernah membentakku dan selalu menangis manja kepadaku, membuatku merasa sangat
dibutuhkan olehnya. Aku sangat mencintainya.
Tuhan, tolong tetap
jaga dia. Setelah aku tidak ada, aku yakin dia menjadi lebih rapuh. Tuhan,
tolong kuatkan dia, tolong jaga dia.
Aku mencintai putriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar