Senin, 22 Juni 2015

William

malam itu kita duduk di sofa, berdua, sambil tertawa. aku, kamu, sekotak martabak dan dua gelas teh hangat. kita sudah berteman cukup lama.
kecewanya aku, kita punya satu kesamaan yang benar-benar fatal. kita sama-sama suka laki-laki. aku cewek, kamu cowok. sama-sama suka laki-laki.
"berenti deh jadi aneh gitu. banyak cewek manis naksir berat sama lo," ucapku sambil mengunyah martabak.
kamu mendengus, "Tih, gue William, bukan Garda yang lo junjung tinggi itu sayangnya. bukan Garda yang ngasih feedback ke setiap cewek yang merayu dia."
"by the way, honey, gue nggak dapet feedback tuh dari dia," balasku.
"nah, jangan-jangan si Garda ini sejenis gue ini," cetusmu.
aku memukul bahumu, "jelas nggak, Will. dia bukan ganteng-ganteng mubazir macam lo."
William hanya tertawa renyah. dia menyesap teh hangatnya lalu menghembuskan nafas. kadang, kebersamaan William bikin semuanya nyaman, ringan, dan mengalir gitu aja. teman terbaik yang mungkin tulus tanpa minta apapun.
"Will, kenapa nggak mencoba buat normal?" tanyaku lagi.
William berdecak, "udah ya, baby, jangan bahas ini lagi. You really know who I am,"
tahu betul malah, Will. aku tahu betul kenapa kamu begini, kenapa kita berteman, kenapa kita bisa saling tulus begini.
"But..." Will bergumam.
"apa?" tanyaku antusias.
"kadang gue masih mau jadi normal. tapi takut, takut semuanya terulang lagi,"ucap Will, diakhiri dengan senyum mempesona dari wajah Jerman-Garutnya.
"apa salahnya nyoba?" tanyaku, sedikit menghasut.
"ngapain nyoba kalo gue aja udah tau akhirnya gimana," tegasnya. Will menatapku dalam, ada sesuatu dimatanya. sesuatu yang sama waktu aku menemuinya di ruang rapat perusahaan Ayah.
aku balas menatapnya. "kenapa Will? sebenernya kenapa?"
"dari awal ketemu kamu, aku selalu tahu kamu bahkan nggak pernah bisa jadi lebih dari sekadar temanku," kataWill.
aku bergeming. kata-katanya berbeda, ini lembut dan penuh perasaan. bukannya aku nggak tahu kalau suaranya tersirat ketulusan sekaligus harapan.
"maksudnya?" kataku dungu.
"aku menolak jadi normal karena aku tau, hasilnya bakal sama kayak kisah cintaku dulu. nggak tergapai. kamu cinta sama Garda mati-matian, aku cinta sama kamu mati-matian, jadi ngapain aku jadi yang seharusnya kalo pada akhirnya aku nggak bahagia?" jelas Will.
jantungku berdentum. tenggorokanku sakit. Will? cinta padaku mati-matian? guyon macam apa ini?
"kalo selama ini aku bukan gay, dan pura-pura jadi gay cuma buat bisa deket sama kamu, gimana? cuma buat bisa bebas ngomong apa aja sama kamu, manggil kamu apa aja, jadi sahabat terdekat kamu. padahal rasanya sakit, karena kamu keseringan ngomongin Garda. but, honey, itu lebih dari cukup ketimbang bilang perasaan yang sebenernya sama kamu, tapi kamu jadi jauh," penjelasan Will membuat nafasnya tidak beraturan.
aku? aku masih mencoba mencerna semuanya.
"lo pengecut, Will," gumamku.
"peduli setan aku pengecut atau bukan. tapi percaya sama aku, cintaku tulus dan menghormati pilihan hatimu,"
tapi kali ini rasanya beda. ada kelegaan, entah apa, entah kenapa. aku menerima Will, apa adanya. terserah cinta padaku atau nggak, terserah gay atau bukan. terserah. tapi aku menerimanya, entah sebagai apapun dia dalam hidupku.
"maaf. kebohongan ini nggak seberapa dibanding sakitnya mempermainkan sandiwara setan padahal punya cinta sebegitu besar," ucap William. dia membuang tatapannya pada teh hangatnya yang tinggal setengah gelas.
"gue maafin lo, Will. semua hal ada alasannya, dan elo nggak terlambat mengutarakan semuanya. gue menerima elo, entah sebagai apa. yang gue tau, gue nyaman saat bersama lo. terserah hidup ini mau bawa kita kemana, yang penting jangan pernah ninggalin gue," akhirnya aku berkata begitu. Pada William Hadi, teman terbaikku.
entah untuk apa, saat itu juga kami berdua lega dalam keheningan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar